Kamis, 30 Desember 2010

TRANSCULTURAL NURSING

TRANSCULTURAL NURSING
KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA
 PENDAHULUAN
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21 me
tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin besar
Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara (imigrasi)
adanya pergeseran terhadap tuntutan askep
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat
dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan
 Perawat mempunyai latar belakang etnik, budaya dan agama yg berbeda dg klien
 Perawat memahami àklien mempunyai wawasan pandangan dan interpretasi mengenai penyakit dan kesehatan yg berbeda à didasarkan pd keyakinan sosial budaya dan agama.

 Terdapat rentang yg luas ttg keyakinan dan praktik kesehatan
 Banyak dr keyakinan ini mempunyai akar dr latar belakang budaya, etnik, agama, dan sosial dr individu, klrg dan komunitas.
 Mengatasi / mengalami suatu penyakit krisis à menggunakan pendekatan modern atau tradisional
 Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah Transcultural Nursing Theory
 Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi à dikembangkan dalam konteks keperawatan
 Didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat
Leininger beranggapan àpenting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien.
Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, à cultural shock.
CULTURAL SHOCK
Cultural shock à akan dialami pasien jika perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan
Menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan
beberapa mengalami disorientasi
Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami nyeri
Pada beberapa daerah atau negara
diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau menangis.
Perawat memiliki kebiasaan à nyeri hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak
maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan
memintanya berdoa
Memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya
Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat
penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
DEVINISI TRANSCULTURAL NURSING
 suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
PARADIGMA TRANSCULTURAL NURSING
 Leininger (1985) à sebagai cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya.
 Terdapat empat konsep sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew and Boyle, 1995).
MANUSIA
 Individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan
 Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada
(Geiger and Davidhizar, 1995).
SEHAT
 Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit.
 Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
LINGKUNGAN
 Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien.
 Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi.
 Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
 Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun.
 Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus
mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
 Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan
KEPERAWATAN
 Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya.
 Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.
 Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan
adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
HARITAGE CONSISTENSY
 Salah satu cara menganalisis sistem keyakinan à melting pot
 Masyarakat menerima budaya yg dominan mll sekolah, TV, dan film.
 Teori yg lain adl. Haritage Consistensy à melihat akulturasi sbg suatu kontinum
 Teori ini diperluas dlm upaya mempelajari tingkat dimana gaya hidup mencerminkan budaya tradisional


BUDAYA
 Menggambarkan sifat non fisik
 Ex : nilai, keyakinan, sikap, atau adat istiadat yg disepakati oleh kelompok masy. Dan diwariskan ke generasi berikutnya
 Kultur jg mrp kumpulan dr keyakinan, praktik, kebiasaan, kesukaan, norma, adat istiadat dan ritual yg dipelajari dr keluarga slm sosialisasi bertahun-tahun
 Banyak keyakinan , pikiran dan tindakan masy. Yg disadari maupun tidak à ditentukan oleh budaya
ETNISITAS
 Rasa identitas diri yg berkaitan dg kelompok kultur sosial umum dan warisan budaya.
 Kompleks, sukar dipahami, dan tidak selalu didefinisikan scr jelas
 Seseorang dilahirkan dlm s/ kelompok etnik tertentu tp dpt jg mengadopsi dr etnik lainnya
 Karakteristik : bahasa dan dialek yg sama, status perpindahan, suku bangsa dan kepercayaan serta praktik religius
 Masy. Menggunakan bersama tradisi, nilai, simbol, literatur, cerita rakyat, musik dan makanan kesukaan.
 Karakteristik ini meluas dr tetangga ke komunitas
RELIGI
 keyakinan dlm s/ kekuatan sifat ketuhanan atau diluar kekuatan manusia yg harus dipatuhi dan diibadatkan sbg pencipta dan pengatur alam semesta
 Nilai etika dan keyakinan serta praktik keagamaan berfungsi utk lebih jauh mengklarifikasi etnis.
 Beberapa praktik keagamaan berkaitan dg kesehatan
 Ex : beberapa agama mengajarkan bahwa mematuhi aturan atau kewajiban adalah penghantar keharmonisan dan kesehatan , sebaliknya.
 Tingkat konsistensi warisan budaya dievaluasi dg menentukan kultur, etnisitas, dan agama
 Kultur, etnis, dan agama b/d sosialisasi seseorg.
KONTROL LINGKUNGAN
 Mengacu pd kemampuan anggota kelompok kultural t3 utk merencanakan aktivitas yg mengontrol sifat dan faktor lingkungan lgsg.
 Didalamnya : sistem keyakinan tradisional ttg kesehatan, penyakit, praktik pengobatan tradisional
VARIASI BIOLOGIS
 Tdp beberapa cara dr kelompok kultural berbeda scr biologis dr anggota
kelompok kultural lainnya.
 Struktur dan bentuk tubuh
 Warna kulit
 Variasi enzimatik dan genetik
 Kerentanan thd penyakit
 Variasi nutrisi
ORGANISASI SOSIAL
 Seseorg dibesarkan dan bertempat tinggal memainkan peran penting dlm perkembangan dan identitas kultural mereka.
 Anak2 belajar ttg respon thd peristiwa kehidupan dr klrg dan kelompok
 Organisasi sosial mengacu pd unit klrg dan kelompok sosial yg dpt diidentifikasi o/ klien atau klrg
KOMUNIKASI
 Perbedaan komunikasi ditunjukkan dlm banyak cara, tmsk perbedaan bahasa, perilaku verbal, non verbal dan diam.
 Merupakan faktor terpenting dlm memberikan asuhan kept.
 Perbedaan ini memberikan dampak pd semua tahap proses keperawatan.
 Ex : klien dg keterbatasan bahasa mengetahui ucapan salam yg umum spt “apa kabar ? Atau halo” akan tetapi tdk mengatahui istilah “nyeri” atau “suhu tubuh” yg biasa dipahami o/ perawat.
 Ketidakberhasilan komunikasi efektif tdk hanya menyebabkan penundaan Dx dan tindakan tp jg mengarah pd hal tragis
 Ex : perawat yg berbahasa inggris tdk berhasil menetukan bahwa klien benar2 memahami instruksi preoperatif ttg bagian yg hendak dioperasi menggunakan betadin à sepanjang penjelasan, klien mengangguk dan perawat menanyakan “ anda mengerti apa yg saya katakan ?” à perawat menilai klien memahami instruksi yg diberikan
 Yang lebih klien meminum selruh isi betadin dan bukan untuk membersihkan bagian yg akan dioperasi
PERILAKU PERAWAT THD KLIEN YG DPT DISALAH MENGERTI MENURUT MUECKE (1970)
 Perawat meneriakkan kata2 yg sama dg lebih keras
 Perawat berfokus pd tugas d/p klien
 Perawat berhenti berbicara dg klien dan mulai melakukan s/ bagi klien d/p bersama klien
 Isolasi menyakitkan bagi klien
 Mengalami syok cultural
 Menarik diri, bermusuhan, tidak kooperatif
SOLUSI
 Perawat dpt meminta keluarga yg berbicara dg bahasa perawat utk menginterpretasi apa yg dikomunikasikan.
 Klrg memberi informasi ttg latar belakang klien yg bermanfaat dlm perawatan holistik
 Institusi perawatan kesehatan mencari penerjemah
RUANG
 Ruang personal mencakup perilaku individu dan sikap yg ditunjukkan pd ruang disekitar mereka
 Teritorialitas: sikap yg ditunjukkan pd s/ area ssorg yg diklaim dan dipertahankan atau bereaksi scr emosional ketika orla memasuki srea tsb.
 Anggota staf dan klien lain sering memasuki teritorial klien di RS, ex : t4 tidur, kamar kecil, dan benda milik klien.
 Ruang personal tercakup dlm banyak aktivitas keperawtan, dan perawat harus sensitif thd sikap klien yg ditujukan pd ruang personal.
 Ex : dlm memberikan askep, sering mengharuskan perawat menyentuh tubuh klien (touch)
WAKTU
 Kultur AS dan Kanada cenderung berorientasi pd masa mendatang.
 Mereka lebih menyukai merencanakan jauh ke depan dlm membuat jadwal, perjanjian, dan mengorganisasikan aktivitas.
 Perbedaan orientai waktu bisa mjd hal penting dlm tindakan perawatan spt perencanaan jangka panjang dan penjelasan ttg jadwal medikasi.
 Ex : jika klien tdk teratur minum obat penurun darah tinggi, penyuluhan ttg potensi efek thd HT harus menekankan masalah jangka pendek
PROSES KEPERAWATAN TRANSCULTURAL NURSING
 Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya
 Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
PENGKAJIAN
 Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and
Davidhizar, 1995).
 Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen :
FAKTOR TEKNOLOGI
 Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan.
 Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini
FAKTOR AGAMA DAN FALSAFAHHIDUP(RELIGION AND PHILOSOPHICAL FACTORS)
 Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di
atas kehidupannya sendiri.
 Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
FAKTOR SOSIAL DAN KETERIKATAN KELUARGA
 Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga
NILAI-2 BUDAYA DAN GAYA HIDUP
 Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk.
 Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait.
 Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
FAKTOR KEBIJAKAN DAN PERATURAN YANG BERLAKU
 Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995).
 Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
FAKTOR EKONOMI
 Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
 Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.
FAKTOR PENDIDIKAN
 Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini.
 Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.
 Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi
keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995).
 Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu :
1. gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
2. gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural
3. ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
 Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan.
 Perencanaan adalah
suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger
and Davidhizar, 1995
 Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam
keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan
kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
STRATEGI DALAM TRASCULTURAL NURSING
 CARA I : MEMPERTAHANKAN BUDAYA
 Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
 Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan
sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien
 Sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,
misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
INTERVENSINYA
 Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi
 Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
 Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
CARA II:NEGOSIASI BUDAYA
 Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatan.
 Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.
INTERVENSINYA
 Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
 Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
 Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik
CARA III: RESTRUKTURISASI BUDAYA
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan.
 Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok.
 Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
INTERVENSINYA
 Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya
 Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok
 Gunakan pihak ketiga bila perlu
 Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
 Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
EVALUASI
 Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan,
 mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan
budaya yang dimiliki klien.
 Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar